Menanti Kesembuhan Rizki Sang Buah Hati

Ibu adalah sebaik-baiknya manusia di dunia bagi anaknya, apapun yang terbaik akan dia lakukan bagi anaknya. Jadi tidaklah berlebihan jika kita mengamini penggalan kata dalam kitab suci yang menyebutkan bahwa surga berada dibawah telapak kaki ibu, karena hanya dengan merendahkan hati kita pada ibu lah seseorang itu akan layak masuk alam keabadian paling baik itu.

Tuti Sulistyawati, 35, ibu dari Rizki Ramadhan, 2,5, anak laki-laki yang terlahir kurang beruntung karena mempunyai kelainan pada saluran pencernaannya. Atresia Esofagus, penyakit yang berarti agitasi dari sistem pencernaan dimana esofagus atau kerongkongan tidak berkembang sebagaimana mestinya, sehingga mengalami kesulitan mencerna makanan dimana  merupakan penyakit bawaan sejak kelahiran.

Semenjak lahir, Rizki harus dioperasi untuk diberi saluran makan dan minumnya, tapi walaupun begitu, tak ada kesan keluh kesah dan penyesalan dari Tuti pada buah hati ketiganya itu. Tuti yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat bersama Paini dan 20 orang yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama Penyandang Cacat (Kube Penca) selalu berusaha tegar dan tabah.

Sejak 4 Februari 2013 Rizki harus dioperasi untuk kedua kalinya guna menyambung saluran makannya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) oleh dokter ahli bedah anak, dr Sastiono, SpB. SpBA dan hingga sekarang harus dirawat intensif di Pedriatic ICU. Sejak itu pula Tuti tidak pernah pulang ke rumah karena menunggui Rizki, walau harus tidur di ruang tunggu basement bersama sejumlah penunggu pasien lainnya.

“Tentu kegembiraan saya adalah ketika Rizki bisa cepat sembuh dan kembali bermain bersama teman-temannya di rumah, tapi kan kata dokter belum pasti hingga kapan Rizki harus dirawat disini (RSCM)” cerita Tuti. Bersyukur biaya pengobatan Rizki dibiayai Jamkesda Bekasi, Jawa Barat, jadi tidak terlalu membebani orang tuanya, walaupun tetap beban immateriil tentu lebih berat dari apapun.

Sejalan dengan pendapat dr Sastiono, Rizki belum bisa dipastikan hingga kapan harus dirawat, “Setelah sukses proses operasi keduanya belum lama ini, ternyata saluran pernafasan Rizki terdapat masalah, sehingga menyebabkan bekas operasi di dadanya terbuka, jadi akan lebih baik jika Rizki masih dirawat di RSCM hingga perkembangan selanjutnya” tegas dokter yang hobi fotografi Itu.

Tuti yang merupakan orangtua tunggal juga selalu tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Paini, 41, yang walaupun tidak ada hubungan darah langsung, tetapi sudah seperti “ibu kedua” bagi Rizki, karena bersama Paini dan kelompok disabilitasnya lah, Tuti dan Rizki bisa tinggal dan juga bantu-bantu di rumah dan  memproduksi makanan ringan untuk biaya hidup sehari-hari.

Paini pun memang layak disebut perempuan hebat, karena dia bersama rekan-rekan lainnya tidak pernah berhenti menyayangi Rizki seperti anaknya sendiri. Bahkan ketika Rizki harus dirawat di RSCM, Paini yang mempunyai kekurangan pada fisiknya walaupun tidak setiap hari menunggui, tapi selalu menyempatkan waktu untuk menjenguk disela-sela waktunya.

Semoga Rizki kembali pulang dengan kondisi lebih baik, dan kembali bermain seperti hari-hari kemarin. Semoga Rizki kembali menjadi buah hati orangtuanya yang ceria dan penuh tawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: