Lilyana Natsir

 

MENERUSKAN CITA-CITA KARTINI LEWAT PRESTASI

Tepat seratus tiga puluh tiga tahun lalu Raden Adjeng Kartini terlahir di Jepara, Jawa Tengah pada 21 April. Kartini yang terlahir dari keluarga bangsawan Jawa mendapatkan pendidikan lebih baik daripada warga pribumi lainnya sehingga Kartini mempunyai pemikiran yang lebih maju. Dengan kemampuannya berbahasa Belanda, Kartini seringkali bertukar surat dengan seorang Belanda, Rosa Abendanon, dari situ Kartini terinspirasi terhadap kemajuan perempuan di Belanda, bagaimana perempuan dan laki laki memiliki status sosial yang sejajar. Kartini ingin memajukan perempuan nasional sehingga bisa mendapatkan hak yang sama khususnys dalam pendidikan, kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai Hari Kartini. Sejak saat itu, Hari Kartini menjadi salah satu peringatan bagaimana perempuan juga mempunyai hak yang sama dengan laki laki melalui kodratnya masing-masing, tidak ada diskriminasi.
Dengan semangat Hari Kartini, berikut lima atlet perempuan nasional yang berprestasi diantara banyak atlet perempuan lainnya. Mereka mempersembahkan kebanggan dan menginspirasi bangsa Indonesia layaknya Kartini, mereka membuktikan bahwa perempuan pun bisa berjuang atas nama dan untuk bangsanya, tak peduli dari ras, suku atau agama apapun, mereka mengibarkan bendera merah putih diatas bendera-bendera lain ketika menjuarai ajang olahraga internasional.

Lilyana Natsir
Butet, begitu sapaan akrab putri Beno Natsir dan Olly Maramis yang lahir di Manado, 9 September 1985 ini. Mulai menyukai berbagai macam olahraga sejak kecil, dan mulai masuk klub bulu tangkis di Manado sejak usia 9 tahun. Di klub, Butet yang baru masuk sering memenangkan pertandingan walaupun bertanding melawan laki-laki mulai dilirik sang pelatih.

Dua tahun berselang, Butet yang tengah berkunjung ke rumah kerabatnya di Jakarta diajak temannya untuk mengikuti tes masuk klub PB Tangkas di kawasan Greenville, Tanjung Duren, Jakarta Barat. Lulus tes, mengharuskan Butet tinggal di mess PB Tangkas di Jakarta, orang tua yang memberikan kebebasan memilih membuatnya yakin untuk menjadikan bulu tangkis sebagai pilihan hidupnya walaupun harus meninggalkan sekolahnya kala itu di Manado yang juga memiliki
prestasi baik disana. “Saya sangat bersyukur memiliki orang tua seperti mereka yang memberikan kebebasan memilih kepada saya” aku Butet.

Mulai fokus di bulu tangkis, Butet yang sering memenangkan kompetisi mengaku prestasi dari sekian banyak prestasi yang pernah dicapainya adalah dua kali juara dunia bersama Nova Widianto dan ketika menjadi Juara All England 2012 bersama pasangan Ganda Campuran yang baru dipasangkan dua tahun terakhir oleh pelatih Richard Mainaky yaitu Tontowi Ahmad. “Selain dua kali juara dunia bersama Nova, saya senang bisa memecahkan rekor 33 tahun All England milik pasangan ganda campuran Christian Hadinata dan Imelda Wiguna” akunya.

Butet sebagai perempuan yang melihat pasangan ganda campurannya Tontowi Ahmad sebagai seseorang yang berani dan mempunyai kharisma dan mental juara tersebut, mengaku walaupun berbeda jaman dengan sosok pejuang emansipasi wanita RA Kartini, mengenal Kartini sebagai panutan dan perempuan yang harus dicontoh. “Ibu Kartini sebagai pencetus emansipasi wanita merupakan panutan dan perempuan yang harus dicontoh dalam semangatnya memperjuangkan harkat dan derajat perempuan Indonesia” katanya.

Contoh yang bisa dilihat dan dirasakan langsung sebagai sosok “Kartini masa kini” bagi Butet adalah ibunya, yang sejak awal telah memberikan kebebasan baginya untuk memilih jalan hidupnya sendiri, “tetapi walaupun ibu saya memberikan kebebasan, dia tetap memperhatikan saya dengan mengontrol saya selama latihan di Jakarta, dia selalu mengingatkan bahwa saya harus fokus latihan, hati-hati dengan pengaruh pergaulan di Jakarta, apalagi waktu itu lagi marak-maraknya peredaran narkoba. Jadi bagi saya, ibu asaya adalah sosok Kartini sekarang”, ingat Butet.

Dan selain itu, Butet menganggap Linda Agum Gumelar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai salah satu sosok Kartini lain yang menginspirasinya. “Sikapnya yang walaupun menteri tapi tetap memasyarakat dan keibuan membuat saya melihat Ibu Linda sebagai seseorang yang bisa dicontoh untuk kehidupan” aku Butet.

Menutup perbincangan, Butet yang menyukai pasangan ganda campuran korea Kim Dong Mun/Ra Kyumin
mengaskan harapannya untuk dunia bulu tangkis khususnya para atlet perempuan untuk selalu semangat berlatih
dan semoga muncul atlet-atlet perempuan berprestasi kedepannya, sehingga prestasi tidak terhenti. “Semoga dengan beberapa prestasi yang telah saya capai bisa menginspirasi atlet-atlet muda untuk melebihi prestasi saya dan memberikan kebanggaan bagi bangsa Indonesia”, tutup Butet yang menargetkan untuk menjuarai Olimpiade London Juli mendatang.

2 thoughts on “Lilyana Natsir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: