Hidup di Rantau ala Harry dan Sacha

---

APA kesan yang paling umum muncul saat ada bule melintas di tengah kota
Jakarta? Banyak dollar, tinggal di apartemen mahal, dan bermobil mewah?
Nyatanya tidak semua bule begitu lo. Tengok saja Harry Bond Junior, 32,
warga negara asing asal Belanda, dan Sacha Stevenson, 29, asal Kanada.
Keduanya tinggal di Indonesia sudah lebih dari 10 tahun dengan kartu izin
tinggal sementara.
Harry, lahir dengan nama Herman Jeroen Langbroek, mengaku kagum pada
Indonesia saat mengikuti ayahnya bertugas di Jakarta pada 1988-1991. Awal
1998, setelah menyelesaikan sekolah di Belanda, Harry kembali ke Jakarta
dalam rangka liburan bersama ayahnya yang sudah berpindah tugas di India.
Saat liburan berakhir, Harry menolak kembali ke Belanda. Ia memutuskan
berjuang hidup di jalur seni dan hiburan yang dicita-citakan di Jakarta.
Jalur ini lalu terbuka berkat pertemuannya dengan artis Ayu Azhari dan
mendiang Adjie Massaid pada 2001.
Setelah sempat beberapa kali pulang ke Belanda--sampai-sampai bekerja
sebagai tukang sampah di sana untuk mengumpulkan ongkos penerbangan--Harry
kembali ke Indonesia pada 2002. Sejak itu Harry hanya dua kali pulang ke
Belanda untuk menghadiri pernikahan kakaknya dan pemakaman kedua kakeknya.
Sacha lain lagi. Perempuan energik yang pernah menjadi <i>host<p> sebuah
program jalan-jalan di televisi swasta ini berusia 17 tahun saat
memutuskan berkelana keluar Kanada.
Dia mengunjungi seorang bibinya di Karibia, lalu tinggal di Jamaika selama
satu tahun. Sejak itu ia bertekad tinggal di negara tropis, dan sejak 2001
ia menetap di Jakarta.
"Enak," begitu jawab Sacha saat ditanya alasannya. Padahal, ia mengaku
sempat membenci polusi di Jakarta. Namun kemudian ia jatuh cinta pada
keramahan warganya.
Satu hal yang paling dia sukai di sini ialah bagaimana seseorang akan
berkorban demi anggota keluarganya. Ia mencontohkan di Kanada, pemerintah
menjamin segala biaya kesehatan warga negara, sementara di Indonesia tidak
begitu. Jadi anggota keluarga saling membantu untuk membayar biaya
pengobatan anggota keluarga lain. "Itu luar biasa," tutur Sacha.
Meski begitu, persepsi umum bahwa bule pasti kaya raya rupanya tidak bisa
dihindarkan Harry dan Sacha. Misalnya saja, harga barang atau ongkos
transportasi bisa lebih mahal daripada harga biasanya hanya karena mereka
bule.
Demi cita dan kecintaan pada dunia hiburan, Harry yang pernah kecopetan
ponsel di Metro Mini dan Sacha yang bersuamikan Seno, warga negara
Indonesia asal Jakarta, bersama beberapa bule lain membentuk komunitas
Bule Depok. Karya kreatif mereka berupa video klip dan lagu parodi banyak
diunggah di laman Youtube.
Baik Harry maupun Sacha sadar, kesempatan untuk hidup bersama orangtua
yang berprofesi diplomat pasti akan lebih bermateri. Tapi bukan itu yang
mereka inginkan.
Dengan bekal cita-cita dan cinta, dua sahabat, Harry dan Sacha yang
mengaku hidup pas-pasan di Jakarta tanpa uang simpanan di bank yang
jumlahnya berarti, tidak ingin dikasihani. Ini, kata mereka, ialah pilihan
hidup.

---

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: